Relasi Gender dalam Agama-agama
Kamis, 26 Desember 2013
Veer-Zaara - Trailer with English Subtitles
Veer Zaara, adalah sebuah Film drama romantis yang dirilis tahun 2004 yang disutradarai oleh Yash Chopra bawah Yash Raj Films banner. Film ini dibintangi Shah Rukh Khan , Preity Zinta dan Rani Mukerji di peran utama , dengan Manoj Bajpai , Kirron Kher , Divya Dutta dan Anupam Kher dalam mendukung peran . Aktor kawakan Amitabh Bachchan dan Hema Malini membuat penampilan khusus dalam film . Cerita film dan dialog yang ditulis oleh Aditya Chopra .
jika kita melihat sekilas tanpa melihat substansi yang ingin di sampaikan dalm Film ini, kita akan berfikir bahwa film ini hanya film yang bercitarasa romantis, kisah percintaan saja, tanpa melihat substansi dan peran perempuan yang merubah suatu cara berfikir yang sudah membudaya di suatu desa yang di pimpina oleh Amitabh Bachchan yang masih menggunakan cara berfikir yang kolot, dimana perempuan tidak selayaknya berpendidikan ya g tinggi karne mereka berfikir dengan budaya yang di bangun bahwa, perempuan akan selalu mengurusi hal yang berbau domestik. ini adalah budaya lama yang sudah tidak lagi di konsumi oleh para perempuan saat ini. tidak hanya perempuan yang sadar sebagin besar orang sudah keluar dari budaya berfikir lama dan kolot. selamat menonton...!!!
BIDADARI BIDADARI SURGA
Sepertinya dalam film ini banyak yan ingin dismpaikan, terutama pada problem isu gender, dimana Nirina Jubir berperan sebagai Danis, seorang perempuan yang se-enaknya saja di perlakukan oleh kaum laki-laki, hanya karena fisik yang sedikit berbeda dengan perempuan lainnya. Namun disini dia memperlihatkan kepada dunia, bahwa sesuatu itu tidak bisa dipandang sebelah mata, jika ada sedikit kekurangan pada diri manusia, sejatinya ini menunjukan bahwa dia memiliki banyak kelebihan yang tertutupi oleh satu kekurangn. saya kira teman-teman dapat menonton filem ini, karena sesuatu yang bermanfaat akan berpotensi pada hal yang positif. selamatencoba..!!!
Senin, 23 Desember 2013
Responding Papper
Responding Papper 2
Tema : Analisis Gender
Unaimah : 1110034000009
A. Pendahuluan
Ketimpangan peran sosial berdasarkan gender masih tetap dipertahankan dengan dalih doktrin agama. Agama dilibatkan untuk melestarikan kondisi dimana kaum perempuan tidak menganggap dirinya sejajar dengan kaum laki-laki. Tidak mustahil dibalik kesadaran teologis ini manipulasi antropologis bertujuan untuk memapankan struktur patriarki, yang secara umum merugikan kaum perempuan dan hanya menguntungkan kelas-kelas tertentu dalam masyarakat.
Maka, pergerakan perempuaan dewasa ini ramai diperbincangkan terutama pasca Rezim Orde Baru, dengan munculnya berbagai organisasi perempuan. Namun akibat langkanya literatur mengenai sejarah perempuan para peneliti menghadapi kendala yang sangat serius ketika berbicara tentang sejarah pergerakan perempuan, terutama di Indonesia. Kesulitan tersebut terutama dalam memastikan bagaimana dan sampai sejauh mana gerakan perempuan tersebut dapat teridentifikasi keberadaannya.
Melihat kondisi seperti ini, dirasa perlu untuk mengetahui bagaimana seseorang dapat mencari jalan keluar dari berbagai problem tentang gender dengan cara menganalisis suatu kejadian, agar supaya bisa di analisis bersama, dan tanpa ada tersudutkan satu sama yang lain (transparan), dalam memecahkan segala permasalahan yang ada.
B. Devinisi Analisis Gender
Analisis Gender dapat diartikan sebagai alat analisis, yaitu konsep yang digunakan untuk mengenali adanya ketidakadilan dibalik perbedaan relasi sosial laki-laki dan perempuan, seperti diskriminasi, subordinasi, marginalisasi, violence, double burden. [1] tugas utama analisis gender adalah memberikan makna konsep, sumsi, dan ideologi pada praktek hubungan baru antara kaum laki-laki daperempuan serta implikasinya terhadap kehidupan sosial yang lebih luas, mencakup aspek sosial, ekonomi, politik dan kultural. Yang tidak terlihat oleh teori ataupun oleh analisis sosial lainnya. Kegunana analisis gender adalah memeberikan dasar dalam melakukan trasformasi sosial untuk mewujudkan tata kehidupan baru yang lebih baik, melalui relasi sosial baru yang lebih adil. Analisis gender ini, sebagai proses menganalisis data dan informasi untuk mengidentifikasi, mengungkap kedudukan, fingsi dan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan, faktor-faktor yang mempengaruhi serta dampak pembudayaannya dalam kehidupan kelaurga dan masyarakat. Adapun manfaat analisis gender praksis ini adalah untuk menyusun dan menetapkan program yang resfonsive gender sesuai dengan situai dan kondisi riil.
Dalam menganalisis, ada teknik-teknik khusus yang dugunakan diantaranya adalah : Teknik Harfad,tenik Moser, teknik Longwe, dan teknik SWOT. Teknik gender ini penggunaannya harus sesuai dengan permaslahan dan tujuan penelitian.
a. Teknik Harvard
Krangka, analisis Harvard, disebut juga krangka analisis peran gender adalah krangka analisis gender yang dikembangkan oleh Harvard Institut For International Development, AS yang bekerjasama dengan USAID dan dipublikasikan tahun 1985, pada saat dimana sangat populer “pendekatan Efesiensi” di era perempuan dan pembangunan (woment in Development).[2]
Tujuan dari semua ini adalah, untuk menunjukan bahwa ada persoalan ekonomidalam alokasi suberdaya bagi perempuan dan laki-laki. Alat ini bertujuan untuk menolong para perencana program, mendisain program atau proyek yang lebih efisien dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan dengan melakukan pemetaan para dan sumber-sumber daya yang dimiliki perempuan dan laki-laki, dam memberikan perhatian khusus kepada perbedaan masing-masing.
Krangka analisi gender harfard ini lebih concern dengan membuat pembagian kerja gender (division of labour), peran dalam pengambilankeputusan, tingkat kontrol akan sumberdaya yang kelihatan. Sebagi konsep dan alat ini dibutuhkan data detail bagi perencanaan gender. Implikasi perencanaan program terhadap gender perempuan adalah dibutuhkan analisis yang menutupi bolong (gaps) pada leven beban kerja, pengambilan keputusan dll antara perempuan dan laki-laki. Dibawah ini ada tiga aset yang diperlukan diantaranya adalah:
· Siapa melakukan apa, kapan, dimana, dan berapa banyak alokasi waktu yang diperlukan.
· Ektor yang mempengaruhi perbedaan dalam pembagian kerja berbasis gender, serta akses dan kontrol yang ada pada “profil aktifitas” serta “profil akses dan kontral.
· Tujuan dari analisis ini, membedah alokasi sumberdaya ekonomis terhadap laki-laki dan perempuan, membantu perencanaan proyek untuk lebih efisien dan meningkatkan produktifitas secara keseluruhan.
· Kelemahan dan kekurangan teknik Harvard, praktis dan mudah digunakan khususnya pada analisis makro yakni level komunitas dan keluarga, berguna untuk baseline inermasi yang detail, gampang dialokasikan pada pemula/awam, fokus pada yang kasat mata.
b. Teknik Moser
Teknik ini dikembangkan olehCaroline Moser tahun 1980dari Development Planning Unit, University of London. Latarbelakang adanya teknik ini berdasarkan pembangunan yang tidak adil dari perspektig gender, kelas dan klompok etnis, perempuan dari kelompok pekerja miskin. Teknik ini menyoderkan Konsep kebutuhan praktis dan strategis, yang bertujuan untuk meningkatkan akses dan kontrol untuk sumberdaya material melalui organisasi masyarakat. Tiga konsep dari kerangka ini diantaranya:[3]
· Kerja produksi, kerja produktif, dan kerja komunitas. Ini berguna untuk pemetaan pembagian kerja gender dan alokasi kerja[4]
· Berupaya untuk membedakan antara kebutuhan yang bersiat praktis dan strategis bagi perempuan dan laki-laki, kebutuhan strategis berelasi dengan kebutuhan trsnformasi status dan posisi perempuan.
· Pendekatan analisis kebijakan- dari fokus kesejahteraan (walfare), kesamaan (equity), anti kemiskinan, efisiensi dan pemberdayaan.
· Kekuatan dan kelemahannya, menekankan dan mempertanyakan asumsi dibalik proyek-proyek intervensi, mampu melihat kesenjangan perempuan dan laki-laki, penekanan pada seluruh aspek kerja membuat peran ganda perempuan terlihat, fokus pada perempuan dan laki-laki dan tidak pada relasi sosial, kerja secara efektif lebih berungsi sebagi alat analisi intervensi ketimbang perencanaan, tidak menekankan aspek lain dari kesenjangan.
c. Teknik Longwe
Sara Hlupekile Longwe, memperkanalkan konsep isu-isu perempuan, menurut devinisinya, isu-isu perempuan adalah mengenai persamaan dengan laki-laki dalam setiap peran sosial dan ekonomi dan mencakup setiap tingkat persamaan ( kesejehteraan, akses, penyadaran, partisipasi dan kontrol ).
[1] Pusat Studi Wanita, pengantar kajian gender, UIN Jakarta 2003, hal 159
[2] Herien Puspitasari, Makalah Seminar, Analisis Gender dalam penelitian bidang Ilmu Keluarga, Bogor 2009, hal 3
[3] Herien Puspitasari, Makalah Seminar, Analisis Gender dalam penelitian bidang Ilmu Keluarga, Bogor 2009, hal 5
[4] Candida March, ines A. Symth, Maitrayee mukhopadhyay A Guide to Gender-analysis Erameworks, Hal 56
Responding
Papper 2
Tema
: Analisis Gender
Unaimah
: 1110034000009
A.
Pendahuluan
Ketimpangan peran sosial berdasarkan gender masih tetap
dipertahankan dengan dalih doktrin agama. Agama dilibatkan untuk melestarikan
kondisi dimana kaum perempuan tidak menganggap dirinya sejajar dengan kaum
laki-laki. Tidak mustahil dibalik kesadaran teologis ini manipulasi
antropologis bertujuan untuk memapankan struktur patriarki, yang secara umum
merugikan kaum perempuan dan hanya menguntungkan kelas-kelas tertentu dalam
masyarakat.
Maka, pergerakan perempuaan dewasa ini ramai diperbincangkan
terutama pasca Rezim Orde Baru, dengan munculnya berbagai organisasi perempuan.
Namun akibat langkanya literatur mengenai sejarah perempuan para peneliti
menghadapi kendala yang sangat serius ketika berbicara tentang sejarah
pergerakan perempuan, terutama di Indonesia. Kesulitan tersebut terutama dalam
memastikan bagaimana dan sampai sejauh mana gerakan perempuan tersebut dapat
teridentifikasi keberadaannya.
Melihat kondisi seperti ini, dirasa perlu untuk mengetahui
bagaimana seseorang dapat mencari jalan keluar dari berbagai problem tentang
gender dengan cara menganalisis suatu kejadian, agar supaya bisa di analisis
bersama, dan tanpa ada tersudutkan satu sama yang lain (transparan), dalam
memecahkan segala permasalahan yang ada.
B.
Devinisi Analisis Gender
Analisis Gender dapat diartikan sebagai alat analisis, yaitu konsep
yang digunakan untuk mengenali adanya ketidakadilan dibalik perbedaan relasi
sosial laki-laki dan perempuan, seperti diskriminasi, subordinasi,
marginalisasi, violence, double burden. [1]
tugas utama analisis gender adalah memberikan makna konsep, sumsi, dan ideologi
pada praktek hubungan baru antara kaum laki-laki daperempuan serta implikasinya
terhadap kehidupan sosial yang lebih luas, mencakup aspek sosial, ekonomi,
politik dan kultural. Yang tidak terlihat oleh teori ataupun oleh analisis
sosial lainnya. Kegunana analisis gender adalah memeberikan dasar dalam melakukan trasformasi sosial untuk mewujudkan
tata kehidupan baru yang lebih baik, melalui relasi sosial baru yang lebih
adil. Analisis gender ini, sebagai proses menganalisis data dan informasi untuk
mengidentifikasi, mengungkap kedudukan, fingsi dan peran dan tanggung jawab
laki-laki dan perempuan, faktor-faktor yang mempengaruhi serta dampak
pembudayaannya dalam kehidupan kelaurga dan masyarakat. Adapun manfaat analisis
gender praksis ini adalah untuk menyusun dan menetapkan program yang resfonsive
gender sesuai dengan situai dan kondisi riil.
Dalam menganalisis, ada teknik-teknik khusus yang dugunakan
diantaranya adalah : Teknik Harfad, tenik Moser, teknik Longwe, dan
teknik SWOT. Teknik gender ini penggunaannya harus sesuai dengan
permaslahan dan tujuan penelitian.
a. Teknik Harvard
Krangka, analisis Harvard, disebut juga krangka analisis peran
gender adalah krangka analisis gender yang dikembangkan oleh Harvard Institut
For International Development, AS yang bekerjasama dengan USAID dan
dipublikasikan tahun 1985, pada saat dimana sangat populer “pendekatan
Efesiensi” di era perempuan dan pembangunan (woment in Development). [2]
Tujuan dari semua ini adalah, untuk menunjukan bahwa ada persoalan
ekonomidalam alokasi suberdaya bagi perempuan dan laki-laki. Alat ini bertujuan
untuk menolong para perencana program, mendisain program atau proyek yang lebih
efisien dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan dengan melakukan
pemetaan para dan sumber-sumber daya yang dimiliki perempuan dan laki-laki, dam
memberikan perhatian khusus kepada perbedaan masing-masing.
Krangka analisi gender harfard ini lebih concern dengan membuat
pembagian kerja gender (division of labour), peran dalam
pengambilankeputusan, tingkat kontrol akan sumberdaya yang kelihatan. Sebagi
konsep dan alat ini dibutuhkan data detail bagi perencanaan gender. Implikasi
perencanaan program terhadap gender perempuan adalah dibutuhkan analisis yang
menutupi bolong (gaps) pada leven beban kerja, pengambilan keputusan dll
antara perempuan dan laki-laki. Dibawah ini ada tiga aset yang diperlukan
diantaranya adalah:
·
Siapa
melakukan apa, kapan, dimana, dan berapa
banyak alokasi waktu yang diperlukan.
·
Ektor
yang mempengaruhi perbedaan dalam pembagian kerja berbasis gender, serta akses
dan kontrol yang ada pada “profil aktifitas” serta “profil akses dan kontral.
·
Tujuan
dari analisis ini, membedah alokasi sumberdaya ekonomis terhadap laki-laki dan
perempuan, membantu perencanaan proyek untuk lebih efisien dan meningkatkan
produktifitas secara keseluruhan.
·
Kelemahan
dan kekurangan teknik Harvard, praktis dan mudah digunakan khususnya pada
analisis makro yakni level komunitas dan keluarga, berguna untuk baseline
inermasi yang detail, gampang dialokasikan pada pemula/awam, fokus pada yang
kasat mata.
b.
Teknik
Moser
Teknik ini dikembangkan olehCaroline Moser tahun 1980dari
Development Planning Unit, University of London. Latarbelakang adanya teknik
ini berdasarkan pembangunan yang tidak adil dari perspektig gender, kelas dan
klompok etnis, perempuan dari kelompok pekerja miskin. Teknik ini menyoderkan
Konsep kebutuhan praktis dan strategis, yang bertujuan untuk meningkatkan akses
dan kontrol untuk sumberdaya material melalui organisasi masyarakat. Tiga
konsep dari kerangka ini diantaranya:[3]
·
Kerja
produksi, kerja produktif, dan kerja komunitas. Ini berguna untuk pemetaan
pembagian kerja gender dan alokasi kerja[4]
·
Berupaya
untuk membedakan antara kebutuhan yang bersiat praktis dan strategis bagi
perempuan dan laki-laki, kebutuhan strategis berelasi dengan kebutuhan
trsnformasi status dan posisi perempuan.
·
Pendekatan
analisis kebijakan- dari fokus kesejahteraan (walfare), kesamaan (equity), anti
kemiskinan, efisiensi dan pemberdayaan.
·
Kekuatan
dan kelemahannya, menekankan dan mempertanyakan asumsi dibalik proyek-proyek
intervensi, mampu melihat kesenjangan perempuan dan laki-laki, penekanan pada
seluruh aspek kerja membuat peran ganda perempuan terlihat, fokus pada
perempuan dan laki-laki dan tidak pada relasi sosial, kerja secara efektif
lebih berungsi sebagi alat analisi intervensi ketimbang perencanaan, tidak
menekankan aspek lain dari kesenjangan.
c.
Teknik
Longwe
Sara Hlupekile Longwe, memperkanalkan konsep isu-isu perempuan,
menurut devinisinya, isu-isu perempuan adalah mengenai persamaan dengan
laki-laki dalam setiap peran sosial dan ekonomi dan mencakup setiap tingkat
persamaan ( kesejehteraan, akses, penyadaran, partisipasi dan kontrol ).
[1] Pusat Studi Wanita, pengantar kajian gender, UIN Jakarta 2003,
hal 159
[2] Herien Puspitasari, Makalah Seminar, Analisis Gender dalam
penelitian bidang Ilmu Keluarga, Bogor 2009, hal 3
[3] Herien Puspitasari, Makalah
Seminar, Analisis Gender dalam penelitian bidang Ilmu Keluarga, Bogor 2009,
hal 5
[4] Candida March, ines A. Symth, Maitrayee mukhopadhyay A Guide to
Gender-analysis Erameworks, Hal 56
Minggu, 08 Desember 2013
Langganan:
Postingan (Atom)