Senin, 23 Desember 2013


Responding Papper 2
Tema : Analisis Gender
Unaimah : 1110034000009



A.    Pendahuluan
Ketimpangan peran sosial berdasarkan gender masih tetap dipertahankan dengan dalih doktrin agama. Agama dilibatkan untuk melestarikan kondisi dimana kaum perempuan tidak menganggap dirinya sejajar dengan kaum laki-laki. Tidak mustahil dibalik kesadaran teologis ini manipulasi antropologis bertujuan untuk memapankan struktur patriarki, yang secara umum merugikan kaum perempuan dan hanya menguntungkan kelas-kelas tertentu dalam masyarakat.
Maka, pergerakan perempuaan dewasa ini ramai diperbincangkan terutama pasca Rezim Orde Baru, dengan munculnya berbagai organisasi perempuan. Namun akibat langkanya literatur mengenai sejarah perempuan para peneliti menghadapi kendala yang sangat serius ketika berbicara tentang sejarah pergerakan perempuan, terutama di Indonesia. Kesulitan tersebut terutama dalam memastikan bagaimana dan sampai sejauh mana gerakan perempuan tersebut dapat teridentifikasi keberadaannya.
Melihat kondisi seperti ini, dirasa perlu untuk mengetahui bagaimana seseorang dapat mencari jalan keluar dari berbagai problem tentang gender dengan cara menganalisis suatu kejadian, agar supaya bisa di analisis bersama, dan tanpa ada tersudutkan satu sama yang lain (transparan), dalam memecahkan segala permasalahan yang ada.
           
B.     Devinisi  Analisis Gender
Analisis Gender dapat diartikan sebagai alat analisis, yaitu konsep yang digunakan untuk mengenali adanya ketidakadilan dibalik perbedaan relasi sosial laki-laki dan perempuan, seperti diskriminasi, subordinasi, marginalisasi, violence, double burden.  [1] tugas utama analisis gender adalah memberikan makna konsep, sumsi, dan ideologi pada praktek hubungan baru antara kaum laki-laki daperempuan serta implikasinya terhadap kehidupan sosial yang lebih luas, mencakup aspek sosial, ekonomi, politik dan kultural. Yang tidak terlihat oleh teori ataupun oleh analisis sosial lainnya. Kegunana analisis gender adalah memeberikan dasar dalam  melakukan trasformasi sosial untuk mewujudkan tata kehidupan baru yang lebih baik, melalui relasi sosial baru yang lebih adil. Analisis gender ini, sebagai proses menganalisis data dan informasi untuk mengidentifikasi, mengungkap kedudukan, fingsi dan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan, faktor-faktor yang mempengaruhi serta dampak pembudayaannya dalam kehidupan kelaurga dan masyarakat. Adapun manfaat analisis gender praksis ini adalah untuk menyusun dan menetapkan program yang resfonsive gender sesuai dengan situai dan kondisi riil.
Dalam menganalisis, ada teknik-teknik khusus yang dugunakan diantaranya adalah : Teknik Harfad, tenik Moser, teknik Longwe, dan teknik SWOT. Teknik gender ini penggunaannya harus sesuai dengan permaslahan dan tujuan penelitian.

a.      Teknik Harvard
Krangka, analisis Harvard, disebut juga krangka analisis peran gender adalah krangka analisis gender yang dikembangkan oleh Harvard Institut For International Development, AS yang bekerjasama dengan USAID dan dipublikasikan tahun 1985, pada saat dimana sangat populer “pendekatan Efesiensi” di era perempuan dan pembangunan (woment in Development). [2]
Tujuan dari semua ini adalah, untuk menunjukan bahwa ada persoalan ekonomidalam alokasi suberdaya bagi perempuan dan laki-laki. Alat ini bertujuan untuk menolong para perencana program, mendisain program atau proyek yang lebih efisien dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan dengan melakukan pemetaan para dan sumber-sumber daya yang dimiliki perempuan dan laki-laki, dam memberikan perhatian khusus kepada perbedaan masing-masing.
Krangka analisi gender harfard ini lebih concern dengan membuat pembagian kerja gender (division of labour), peran dalam pengambilankeputusan, tingkat kontrol akan sumberdaya yang kelihatan. Sebagi konsep dan alat ini dibutuhkan data detail bagi perencanaan gender. Implikasi perencanaan program terhadap gender perempuan adalah dibutuhkan analisis yang menutupi bolong (gaps) pada leven beban kerja, pengambilan keputusan dll antara perempuan dan laki-laki. Dibawah ini ada tiga aset yang diperlukan diantaranya adalah:
·         Siapa melakukan apa,  kapan, dimana, dan berapa banyak alokasi waktu yang diperlukan.
·         Ektor yang mempengaruhi perbedaan dalam pembagian kerja berbasis gender, serta akses dan kontrol yang ada pada “profil aktifitas” serta “profil akses dan kontral.
·         Tujuan dari analisis ini, membedah alokasi sumberdaya ekonomis terhadap laki-laki dan perempuan, membantu perencanaan proyek untuk lebih efisien dan meningkatkan produktifitas secara keseluruhan.
·         Kelemahan dan kekurangan teknik Harvard, praktis dan mudah digunakan khususnya pada analisis makro yakni level komunitas dan keluarga, berguna untuk baseline inermasi yang detail, gampang dialokasikan pada pemula/awam, fokus pada yang kasat mata.
b.      Teknik Moser
Teknik ini dikembangkan olehCaroline Moser tahun 1980dari Development Planning Unit, University of London. Latarbelakang adanya teknik ini berdasarkan pembangunan yang tidak adil dari perspektig gender, kelas dan klompok etnis, perempuan dari kelompok pekerja miskin. Teknik ini menyoderkan Konsep kebutuhan praktis dan strategis, yang bertujuan untuk meningkatkan akses dan kontrol untuk sumberdaya material melalui organisasi masyarakat. Tiga konsep dari kerangka ini diantaranya:[3]
·         Kerja produksi, kerja produktif, dan kerja komunitas. Ini berguna untuk pemetaan pembagian kerja gender dan alokasi kerja[4]
·         Berupaya untuk membedakan antara kebutuhan yang bersiat praktis dan strategis bagi perempuan dan laki-laki, kebutuhan strategis berelasi dengan kebutuhan trsnformasi status dan posisi perempuan.
·         Pendekatan analisis kebijakan- dari fokus kesejahteraan (walfare), kesamaan (equity), anti kemiskinan, efisiensi dan pemberdayaan.
·         Kekuatan dan kelemahannya, menekankan dan mempertanyakan asumsi dibalik proyek-proyek intervensi, mampu melihat kesenjangan perempuan dan laki-laki, penekanan pada seluruh aspek kerja membuat peran ganda perempuan terlihat, fokus pada perempuan dan laki-laki dan tidak pada relasi sosial, kerja secara efektif lebih berungsi sebagi alat analisi intervensi ketimbang perencanaan, tidak menekankan aspek lain dari kesenjangan.
c.       Teknik Longwe
Sara Hlupekile Longwe, memperkanalkan konsep isu-isu perempuan, menurut devinisinya, isu-isu perempuan adalah mengenai persamaan dengan laki-laki dalam setiap peran sosial dan ekonomi dan mencakup setiap tingkat persamaan ( kesejehteraan, akses, penyadaran, partisipasi dan kontrol ).




[1] Pusat Studi Wanita, pengantar kajian gender, UIN Jakarta 2003, hal 159
[2] Herien Puspitasari, Makalah Seminar, Analisis Gender dalam penelitian bidang Ilmu Keluarga, Bogor 2009, hal 3
[3]  Herien Puspitasari, Makalah Seminar, Analisis Gender dalam penelitian bidang Ilmu Keluarga, Bogor 2009, hal 5
[4] Candida March, ines A. Symth, Maitrayee mukhopadhyay A Guide to Gender-analysis Erameworks, Hal 56

Tidak ada komentar:

Posting Komentar